Postingan

Politik Manok Toh Boh: Retorika Berisik Tanpa Substansi

Gambar
  Bila diri ingin dipandang, jauhi kata tinggi melambung, jauhi sifat ayam dikandang, bertelur satu ribut sekampung. Bila diri ingin dikenang semailah benih di tengah sawah, bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi makin tunduk ke bawah. Menyoroti pepatah tradisional tentang ayam dan padi sebagai refleksi politik. Politik berisik tanpa substansi, diibaratkan ayam bertelur satu ribut sekampung, hanya melahirkan pencitraan dan kemiskinan rakyat. Sebaliknya, politik ideal seperti padi semakin berisi semakin menunduk, menekankan kerendahan hati, integritas, dan kerja nyata. Analisis menunjukkan bahwa kebijakan produktif, seperti padat karya, memperkuat kesejahteraan dan legitimasi. Pepatah lokal ini menjadi pedoman universal etika kepemimpinan dan arah kebijakan publik yang berorientasi pada rakyat. Politik berisik cenderung melahirkan subordinasi, patronase, dan penyalahgunaan anggaran publik, sehingga memperburuk kemiskinan dan ketidakpercayaan masyarakat. Sementara itu, politi...

Politik Babi Ngepet: Metafora Kritik terhadap Kekuasaan

Gambar
Cerita dalam film Babi Ngepet bukan sekadar hiburan mistis, melainkan cermin dari kegelisahan manusia yang terhimpit oleh kemiskinan dan keinginan untuk melawan keterbatasan hidup. Jalan pintas yang ditempuh melalui dukun sakti menggambarkan betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan godaan kekayaan instan. Di balik cerita ini, tersimpan pertanyaan mendasar, apakah manusia rela menukar martabat dan nilai-nilai luhur demi harta yang diperoleh tanpa jerih payah. Kata sang dukun “saya baru menurunkan ilmu ngepet kepada mu jika kamu mematuhi tiga aturan. Pertama, setelah jadi babi jangan mengambil hak orang miskin. Kedua, jangan serakah. Ketiga, rela mengorbankan sesuatu yang sangat engkau sayangi. Dukun, yang dalam pandangan masyarakat sering dicap sebagai sosok gelap dan penuh tipu daya, justru menghadirkan syarat-syarat yang sarat nilai moral. Ia menegaskan bahwa ilmu babi ngepet tidak boleh digunakan untuk merampas hak orang miskin, tidak boleh dijalankan dengan keserakahan, dan ...

Ilusi Kognitif: Strategi Politik Memanipulasi Persepsi Publik

Gambar
  Ilusi kognitif dalam politik anggaran merupakan strategi manipulasi persepsi publik yang menegaskan bagaimana bias penalaran dimanfaatkan untuk menutup kelemahan kebijakan dan membungkus pemborosan sebagai keberhasilan; melalui retorika spektakuler, proyek fisik megah, serta perjalanan dinas yang diklaim produktif, elite politik menciptakan jarak dengan rakyat dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan akses ekonomi, sehingga aspirasi masyarakat bawah yang seharusnya menjadi fondasi moral kebijakan justru terpinggirkan. Karena itu, kesadaran kritis diperlukan agar anggaran benar-benar berfungsi sebagai instrumen kesejahteraan, bukan sekadar alat pencitraan birokratis. Ilusi kognitif merupakan fenomena psikologis ketika otak manusia salah menafsirkan informasi yang diterima, sehingga menghasilkan persepsi yang menyimpang dari kenyataan. Dalam konteks ini, ilusi kognitif bukan sekadar kesalahan persepsi visual, melainkan juga kesalahan dala...

Trustless dan Suspicious: Wajah Curiga Mengawal Kekuasaan Sala-Waloi

Gambar
Kecurigaan sebagai modal etis dalam menghadapi kekuasaan yang Sala-Waloi/carut-marut. Dalam konteks pemerintahan yang mengalami disorientasi moral dan institusional; dalam istilah lokal disebut sala-waloi. Di sini, rakyat tidak hanya dituntut untuk bersikap tidak percaya ( trustless ), tetapi juga dituntut mengembangkan sikap curiga ( suspicious ) terhadap kekuasaan. Ketika kepercayaan publik dikhianati secara sistematis, ketidakpercayaan menjadi bentuk pertahanan diri kolektif. Namun, ketidakpercayaan saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan kesadaran kritis yang aktif mencurigai motif di balik setiap kebijakan dan tindakan kekuasaan. Sikap tidak percaya dan curiga bukanlah bentuk permusuhan, melainkan ekspresi dari cinta yang dikhianati. Rakyat mencurigai bukan karena benci, tetapi karena pernah percaya. Konteks ini, trustless dan suspicious menjadi bentuk pengawasan non-legalitas yang justru lebih efektif dalam membentuk opini publik dan menekan kekuasaan agar kembali pada jalur...

Leader Prophetik: Bukanlah Biografi Epik dari Ilusi Kekuasaan Manipulatif

Gambar
Mengkaji konsep kepemimpinan prophetik dengan menelusuri nilai-nilai kenabian yang diwariskan Nabi Muhammad Saw, khususnya empat sifat utama; shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Kepemimpinan Nabi tidak dibangun atas dasar dramatisasi asal-usul atau penderitaan masa lalu, melainkan pada integritas dan tanggung jawab moral. Terjadinya paradoks kepemimpinan di mana narasi “dari kalangan bawah” sering dimanfaatkan sebagai alat legitimasi, namun berujung pada praktik kekuasaan yang kontraproduktif dan manipulatif. Menyoroti fenomena logika terbalik dalam politik lokal, di mana pengakuan sebagai “orang susah” justru menjadi strategi untuk meraih kemewahan. Dengan mengangkat metafora siluman dan sepatu kaca, tulisan ini mengajak pembaca untuk membedakan antara panggung pencitraan dan kepemimpinan sejati yang berakar pada nilai-nilai kenabian. Kesadaran kolektif dan keberanian moral menjadi kunci untuk mengembalikan ruh kepemimpinan sebagai amanah, bukan ambisi. Meniru kepemimpinan Nabi bu...

Paradoks Cinta: Menimbang Ulang Ketiadaan Sifat Cinta dalam Asmaul Husna

Gambar
Sifat mencintai dalam diri manusia melahirkan tiga malapetaka; mencemburui, memarahi, lalu membenci. Cinta sering dipuja sebagai kekuatan agung yang menyatukan manusia, melahirkan kebahagiaan, dan menjadi fondasi relasi sosial.  Namun, dalam kenyataannya, cinta juga dapat menjadi sumber luka terdalam, penderitaan batin, dan bahkan kehancuran eksistensial. Fenomena ini, realitas yang dapat dianalisis secara ilmiah dan filosofis. “Cinta membunuh jiwa manusia” bukanlah hiperbola, melainkan refleksi dari kehilangan nilai, arah, dan kesadaran. Filsafat memandang cinta sebagai pengalaman eksistensial yang kompleks. Para filsuf besar telah mengungkap sisi gelap cinta. Soren Kierkegaard, menyatakan bahwa cinta yang tidak diarahkan kepada yang transenden akan berujung pada keputusasaan. Cinta yang terlalu terikat pada dunia fana menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan eksistensial. Friedrich Nietzsche, melihat cinta sebagai ekspresi kehendak untuk berkuasa. Cinta yang posesif adalah...

Fatimah Az-Zahra: Pewaris Keteladanan Kenabian dan Penyangga Peradaban

Gambar
  Salah satu nama surat dalam Alquran dinamai dengan an-Nisa'. Kata an-Nisa' bukan menyebut perempuan dalam pengertian jenis kelamin, melainkan gambaran tentang potensi perempuan. Dalam kajian semantik Toshihiko Izutsu, kata an-nisa’ tidak hanya menunjuk pada perempuan sebagai lawan jenis laki-laki, tetapi juga mengandung makna sosial, spiritual, dan eksistensial. Penggunaan kata an-nisa’ dalam Alquran sering kali terkait dengan hukum waris, hak-hak sosial, tanggung jawab keluarga, dan peran perempuan dalam masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perempuan dipandang sebagai subjek aktif yang memiliki potensi, bukan objek pasif. Penamaan satu surah dengan an-Nisa’ menunjukkan pengakuan terhadap kompleksitas dan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan sosial dan spiritual umat Islam    Sejarah kenabian; Nabi Muhammad Saw tidak hanya meninggalkan umatnya dengan wahyu dan sunnah, tetapi juga dengan keteladanan yang hidup melalui keluarganya. Sosok Fatimah az-Zahra menjadi s...