LOCKDOWN: ANTARA RAHIM IBU DAN PEMANGKU KEKUASAAN ANGGARAN
خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً
فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ
أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ
Artinya,
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik." (Q. S. al-Mu’minun: 14)
Dunia
ini begitu sempit bagi kehidupan manusia. sangking
sempitnya dengan corona saja isi dunia menjadi panik. Sempitnya dunia, melebihi sempit alam rahim
yang pernah dilewati oleh setiap cucu Adam, selama masa karantina sembilan
bulan di rahim ibu. ketika anak manusia belum dilahirkan ke bumi rahim menjadi
tempat yang paling nyaman yang pernah dilewati oleh manusia.
Rahim
juga menjadi tempat yang paling nyaman dalam sejarah manusia menempati ruang, tempat
dan melewati masa. Kehidupan di alam rahim bagi anak manusia benar-benar dalam
keadaan terkunci namun tetap dalam pengawasan,
atau dalam bahasa hari ini, benar-benar ter lockdown. Lockdown adalah istilah yang digunakan oleh pemerintah dalam rangka mengunci
ruang gerak manusia untuk menghidari penularan suatu wabah penyakit yang
melanda sebuah negeri.
Semasa berlangsungnya kehidupan di alam rahim, janin
manusia dengan proses kehidupannya diawasi oleh Tuhan itu sendiri, lewat
perantara ibu, proses trasformasi makanan disalurkan lewat aliran darah,
termasuk oksigen dan air, dan juga ampas pencernaan bayi seperti Co2 (carbondioksida)
juga dikeluarkan melalui aliran darah. Sedangkan pelaksanaan lockdown survival
kehidupan manusia diawasi oleh pemerintah, mulai dari menjaga sosial
distancingnya sampai dengan proses subsidi bahan pokok bagi kehidupan warganya,
dengan sistem penyaluran yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Istilah lockdown bukanlah sesuatu yang asing bagi
manusia, keberadaannya sudah diberlakukan semenjak manusia melewati proses jadi
di alam rahim. ketika manusia terawang-rawang di alam zuriat, lalu zuriat
tersebut hadir melewati transformasi sperma dan ovum. Kemudian keduanya saling
mencari. Mencari seperti Adam dan Hawa ketika keduanya diturunkan ke bumi, pada
tempat serta posisi terpisah dan saling dijauhkan. dengan penuh perjuangan dan
do'a Adam sebagai manivestasi sperma wujud manusia pertama, dan Hawa sebagai
manivestasi ovum wujud manusia kedua. Pada
akhir pencariannya, bertemu antara Adam dan Hawa pada suatu tempat, yang mana
tempat tersebut layak dijadikan sebagai aikon kasih dan sayang yang menghubungkan tali kasih anak manusia.
Kasih
sayang dalam bentuk realitas kehidupan sosial, Tuhan menaruh perhatian-Nya pada
seorang wanita. Wanita yang dimaksud adalah seorang ibu yang telah melahirkan anaknya. Wanita dalam
Alqur’an mempunyai makna yang sangat istimewa. Sangking istimewanya Alqura’an mengabadikan wanita dengan memberikan langsung nama salah
satu surat yakni, surat “an-Nisa”. Surat an-Nisa di dalam Alqur’an terdapat pada
urutan yang keempat. Surat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., setelah
hijrah ke Madinah.
Surat
an-Nisa terdiri dari seratus tujuh puluh enam ayat, dan digolongkan dalam surat
Madaniyah. Sesuai dengan tempat diturunkannya surat tersbut. Surat an-Nisa di
dalamnya banyak menjelaskan tentang perihal yang terkait dengan permasalahan
kaum perempuan, oleh sebab itu dinamakan an-Nisa. Namun juga terdapat penjelasan tentang wanita pada surat-surat yang lainnya, tetapi tidak
sebanyak dan sedetail penjelasan yang terdapat dalam surat An-Nisa.
Setiap
anak Adam yang lahir di muka bumi, tidak satupun yang terlepas dari kasih sayangnya
seorang wanita (ibu). Ibu adalah malaikat Tuhan yang dititipkan ke bumi untuk
menjadi perawat, penjaga, dan pengayom bagi setiap anak manusia yang sudah
ditakdirkan Tuhan menapaki bumi ini. Ibu adalah orang yang pertama sekali
merasa sakit ketika janin cucu Adam yang dipancarkan melalui zuriat yang
akhirnya menjadi mani-manikam. Mani-manikam ini berkembang menjadi anak manusia
yang diberikan batas waktu tertentu mendiami tempat yang sudah disediakan Tuhan
di dalam perut seorang wanita dengan sebuah organ yang disebut dengan rahim
atau uterus, untuk mengembangkan dirinya.
Diri
yang berasal dari zuriat Anak Adam menyatu dalam tubuh seorang wanita atau ibu.
Pada diri wanitalah terdapat sebuah organ yang dengan segenap aplikasinya mampu
menghadirkan tingkat protektif yang sangat ditail dalam rangka membuat sistem
pengamanan yang begitu akurat, atau dalam istilah yang ngetren sa’at ini, ketika negeri melanda wabah telah
disebut ter lockdown dengan baik.
Rahim
dan lockdown pertama dalam sejarah kehidupan manusia bekerja dengan
sangat baik. Begitu ditailnya sistem yang dirancang Tuhan dari alam rahim, tidak
ada salah perhitungan di sana, semuanya
dijalankan dengan pengaturan yang begitu sempurna. Dimulai dengan tempat
penampungan yang begitu nyaman dan juga
fasilitas yang begitu memadai bagi perkembangan janin anak manusia. Apapun
tersedia di dalamnya, mulai dari penyediaan makanan sampai dengan pembuangan
racun yang mengganggu pertumbuhan janin.
Istilah lockdown menjadi kepanikan bagi manusia
yang mendiami sebuah negeri. Tidak hanya daerah pelosok dan perkotaan saja. Melanda
seluruh wilayah, wilayah perkotaan di
Indonesia merupakan tempat yang paling mencemaskan bagi warganya, cemas oleh karena kehadiran kehadiran virus corona. Penyebaran virus ini begitu cepat dan masif,
sehingga bukan hanya individu saja menjadi cemas, negara dengan segenap
perangkatnyapun ikut panik dan berhati-hati terhadap penyebaran virus ini.
tidak hanya masyarakat biasa, pejabat negarapun ikut terkena penularan wabah,
mulai dari pejabat kementrian
hingga pejabat segala strata akan merasa terancam dengannya, dan bahkan perawat-perawat serta dokter yang ikut menangani wabah
virus mematikan tersebut juga ikut merasa was-was.
Berdasarkan
wabah yang semakin merebak, pemerintah mulai-mulai mewanti-wanti akan
memberlakukan pengendalian warga dari rumah masing-masing. Dimulai dari himbuan
untuk menghindari tempat-tempat keramaian, baik mall, pasar, pusat-pusat
pembelanjaan, sekolah, rumah ibadah, dan lain sebagainya. yang bertujuan tidak
lain dan tak bukan untuk memberikan upaya penyelamatan bagi warganya.
Usaha penyelamatan ini, tidak kecil kemungkinan sampai pada tahapan pada
pemberlaukuan lockdown bagi warga kota dan penduduk negeri.
Jangan
pernah khawatir ketika lockdown ini diberlakukan, sebab lockdown
tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona.
Tentunya berbeda dengan cara manusia melewati masa lockdown di alam
rahim, sebab semua makanan bagi janin tersuplai dengan baik sekali lewat kasih
seorang ibu. Dan tentunya, jika lockdown yang diberlakukan
oleh pemerintah akan mensuplai makanan kepada warganya yang menetap di rumah
dengan segenap peraturan berlaku ketika masyarakat melaksanakan stay at home di
rumah masing-masing.
Memaknai kata lockdown tidak hanya berlaku bagi
janin dan warga saja di sa’at terjadinya wabah. Juga menjadi bahan perbincangan
dengan terkekangnya anggaran pembelanjaan negara. Locdown anggaran
berlaku pada pelaku pemerintahan yang rakus akan kekuasaannya. Pemangku kekuasaan yang menjunjung tinggi azas
kepemimpinan Fir’un mencoba melakukan pemanipulasian serta memanfa’atkan setiap
keadaan yang ada.
Merasa segala kemungkinan ada di tangannya, sehingga hak
dan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan berubah menjadi hak kepemilikan
yang berlebihan, sehingga apapun yang berlaku harus berakhir sesuai dengan
keinginannya. Bagaimanapun adanya, keuntungan pribadi masih saja didominasi,
tidak terkecuali memanfa’atkan corona untuk menarik keuntungan. Dalam corona
ada laba.
Kekuasaan me-lockdown kepentingan rakyat dalam
berbagai bidang oleh karena kerakusan sang penguasa. Lam corona mita laba,
adalah memanipulasi bantuan-bantuan yang menghadirkan survival kehidupan bagi
masyarakat. Kerakusan kekuasaan dalam masa musibah menjadi kesempatan terbesar
baginya untuk menghabiskan anggaran yang sudah ter lockdown, walaupun
penyalurannya tidak sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya diterima oleh
masyarakat.
Memanipulasi anggaran, menipu keadaan, mengabaikan apa
yang seharusnya dilakukan, sehingga pemberdayaan ekonomi menjadi bagian
terpenting dalam menjaga kestabilan pangan negara, tidak berjalan dengan
tuntutan massa. Kekuasaan seharusnya hadir dalam rangka pembangunan ekonomi
tapi malah berhenti pada sebatas subsidi makanan saja.
Di masa berlakunya stay at home bagi masyarakat
negara, dikala itu juga masyarakat merasa kehilangan sosok pemimpinnya. Kehilangan
respon cepat dalam menghadapi suatu keadaan darurat yang sedang berlangsung. Menunggu
keputusan yang begitu lama, seolah-olah keadaan masyarakat yang menyangkut
dengan ketahanan pangan tidaklah begitu penting. Maka tidak heran hanya untuk
mendapatkan subsidi kehidupan dalam jumlah ratusan ribu saja harus menunggu
surat edaran kekuasaan teratas.
Di masa darurat masyarakat kehilangan responsive mendadak
dari pemimpin masing-masing daerah. Beradu argumentasi masih saja dipertahankan,
mencari pos anggaran yang banyak kendalanya masih menjadi tujuan utama, tidak
peduli jumlah pos anggaran yang sedikit. Begitulah keadaannya kekuasaan yang
ter-lockdown oleh rakusnya sang penguasa. Dana dengan jumlah triliunan
rupiah mengalahkan keberadaan anggaran dengan jumlah milyaran dan seratusan
jutaan.
Penyakit mewabah telah membatasi gerak warga negara. Keterbatasan
ini, sepertinya juga merembes pada ruang gerak pikiran penguasa. Rakyat bukanlah
pemegang kuasa terhadap anggaran, kondisi seperti ini menjadi wajar ruang
geraknya terhambat, namun berbeda dengan penguasa. Sebagai pemegang kekuasaan
anggaran, penguasa tidak seharusnya dan tidak layak berfikir lambat dan tidak
bergerak cepat. Inilah yang membedakan ruang gerak masyarakat dengan ruang
gerak para penguasa sang pemegang kekuasaan anggaran. Pemasukan masyarakat ter-lockdown
dengan adanya wabah, pada kondisi seperti inilah pengekangan anggaran tidak
boleh dilakukan.
Dengan adanya penyakit mewabah, keberadaan penguasa diuji
dan terlihat benar, mana yang disebut pemimpin, dengan tingkat kepedulian responsif,
yang melekat dalam diri ketika melihat masyarakatnya dalam keadaan darurat
pangan dan darurat pengembangan ekonomi. Dan mana pula sang pecundang yang
hanya tahu bagaimana me-lockdown setiap anggaran atas kekuasaannya. Sosok pecundang
hanya menguras pikirannya untuk menggunakan pos anggaran pada tempat yang dapat
menghasilkan pendapatan bagi dirinya saja.
Bukankah penggunaan keuangan negara
dengan mentransfer langsung nominal rupiah kepada masyarakat telah me-lockdown
pendapatan sang penguasa anggaran. Dengan
demikian masyarakat tetap menunggu turunnya anggaran seratus milyar lebih yang
sudah pernah disebutkan. Don’t lockdown anggaran....
Komentar
Posting Komentar