Akad Ekonomi Munakahat: The Wedding Hary Andriana & Marwah Zakiah Di Tasikmalaya
وَاِذَا حُيِّيۡتُمۡ بِتَحِيَّةٍ
فَحَيُّوۡا بِاَحۡسَنَ مِنۡهَاۤ اَوۡ رُدُّوۡهَا ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى
كُلِّ شَىۡءٍ حَسِيۡبًا
Artinya, “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu”. Q. S. An-Nisa’/004: 86.
Sabtu tanggal, 23 Januari 2021, Datoak Majo Nansati Dr. H. Suherman Saleh, Ak, MSc. CA., menyampaikan nasehat nikah pada pernikahan Marwah Zakiah, anak dari KH. Ate Musodiq/Ibu Lilis Suryani dengan Hary Andriana anak dari Bapak Ismawandani, SE/Ibu Imas Martini, di Tasikmalaya Jawa Barat.
Menikah adalah ibadah yang dilakukan oleh anak Adam, sekaligus
sebagai penyempurna agama baginya. Menikahlah dengan takdirmu dan mencintailah
dengan nasibmu. Dalam perjalanan hidup, Tuhan telah menciptakan makhluknya
secara berpasang-pasangan. Sudah menjadi sunnatullah, alam ini diciptakan Tuhan
dengan segala keseimbangannya. Adanya malam sebagai pakaian bagi siang, adanya
tumbuhan sebagai pengontrol suhu alam. Berpasangan
juga Tuhan ciptakan pada diri manusia, diciptakannya
perempuan menjadi pakaian bagi kaum Adam. Tidaklah diciptakan segala makhluk, kecuali untuk menjadi survival bagi kelangsungan hidup.
Tuhan telah menyatakan dalam firman-Nya
bahwa, setiap manusia sudah ditentukan bagaimana garis kehidupannya. Langkah,
rejeki, pertemuan, dan maut menjadi rahasia Tuhan yang mana sampai hari ini
belum ditemukan satu alat pendeteksi bagaiman menentukan arah masa depan kehidupan makhluk hidup. Jodoh dan
manusia berpasangan bukanlah sebuah kebetulan, ini adalah janji Tuhan.
Sebagaimana diketahui Tuhan adalah maha menempati janjinya "In nallaha la
tukhliful mi'ad".
Hari ini ananda marwah dan Hary telah
dipertemukan dengan janjinya Tuhan. Menikah bukanlah sebuah kebetulan, yang
hadir menyaksikannyapun bukan juga kebetulan, bersama saya telah hadir dua sahabat yang datang dari
beberapa daerah di negeri ini, yakni
Tuban, Aceh, dan Medan. Begitu juga dengan tamu yang lainnya, hadirnya
menyaksikan dalam berbagai fungsinya, ada sebagai wali nikah, ada sebagai saksi, ada saksi
dari pihak keluarga dan ada saksi dari unsur pemerintahan. Dan sekali lagi,
semua yang hadir di sini bukanlah terjadi begitu saja, kehadiran mereka sudah
ditentukan garisnya oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Akad nikah yang telah diucapkan oleh ananda Hary Andriana kepada Marwah Zakiah yang disaksikan oleh kedua orang tua masing-masing mempelai, para saksi dan para hadirin, walaupun akad itu diucapkan oleh laki-laki bukan berarti pihak wanita tidak mempunyai hak atasnya. Tuhan menjadi pemegang hak pertama setelah akad diucapkan, sehingga kapanpun akad itu dapat diambil kembali oleh kedua mempelai, baik bagi suami mapun bagi istri.
Oleh karena akad, setelah diucapkan langsung menjadi milik Tuhan,
maka keduanya harus menjaga akad tersebut. Bagaimana cara menjaganya, tentunya
dengan memahami fungsi masing-masing antara suami dan istri. Memenuhi hak
antara keduanya, masing-masing dari kita memiliki cara tersendiri. Artinya,
keduanya menjaga rumah tangganya dengan menjunjung tinggi nilai etika, moral,
akhlak, dan perintah agamanya.
Berkhianat terhadap pernikahan, baik dilkukan pihak suami maupun
istri, akad yang sudah diucapkan tersebut akan bergoncang dan rapuh. Dan jika
akad itu diambil kembali di situlah sebuah pernikahan bubar dan talak menjadi
jalan keluar, dan fasak menjadi hak bagi mempelai wanita untuk menggugat suaminya.
Tentu semua ini terjadi akibat dari kehilangan fungsi antara suami dan istri.
Pernikahan merupakan transmisi tanggung jawab orang tua kepada
laki-laki lain yang sebelumnya adalah asing bagi wanita dan keluarganya.
Tanggung jawab penuh kepada suami melebihi tanggung jawab orang tua kepada
anaknya. Segala hal menjadi tanggung suami setelah akad nikah diucapkan di dunia dan diakhirat.
Menikah sebagaimana disampaikan oleh KH. Abun Bunyamin, pimpinan pondok pesantren
Cipasung bahwa, menikah adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan. Litaskunu
ilaiha, bermakna mencapai atau duduklah kebahagiaan itu atas keduanya. Dan
kebahagiaan ini tidak akan tercapai dalam pernikahan, jika fungsi dari akad
yang sudah diucapkan tidak menghadirkan kasih dan sayang bagi keduanya.
Dr. Suherman Saleh, SE. Ak. CA, menyampaikan, apa hubungannya menikah dengan sistem ekonomi, terkait dengan manajemen ekonomi. Hidup tidak pernah terlepas dari hukum manajemen Tuhan, sebagaimana
Allah Swt., telah mengatur jodoh manusia, dan hari ini
Tuhan telah menentukan manajemen-Nya bahwa adinda Hary Andriana dengan Marwah Zakiah.
Sebagai sarjana Ekonomi, ananda Hary harus tahu
mulai hari ini manajemen tanggung jawab terhadap ananda Marwah Zakiah telah
dialihkan tanggungkan (responsibility moving) dari orang tua kepada
ananda Hary, sebagai suaminya.
Manajemen Tuhan sangatlah rapi, jodoh tidak akan tertukar dan
rejeki tidak akan berpindah. Begitu juga dengan kematian, semua menjadi
rahasia, namun tiba sa'atnya dia menjadi nyata. Langkah, rejeki, pertemuan maut
semuanya menjadi rahasia dalam struktur manajemen ketuhanan.
Bagaimana Allah swt., mengatur jodoh manusia sejak sa'at ruh
ditiupkan dalam jiwanya. Takdir atas manusia tersusun seperti dedaunan di
pohon, jika masanya sampai dan takdirnya tiba, maka atas manusia jatuh dan
menyatalah takdir tersebut, dan tidak ada yang dapat memisahkannya jika Tuhan sudah berkehendak atas apa
yang menimpa seorang hamba.
Pernikahan ananda Hary dengan Marwah, jauh sebelum kalian mengenal satu sama lain takdir
itu sudah ditulis dalam manajemen ketuhanan. Proses yang dilalui oleh Hary dan
Marwa dalam prosesi pra- pernikahan, baik sejak proses awal perkenalan, lalu
dilanjutkan dengan prosesi adat, prosesi budaya, dan hari ini dilanjutkan
dengan prosesi keagamaan sebagai tindakan eksekusi penuh,
bahwa keputusan dalam menjalankan akad transaksi manajemen yang dicatat dalam
akte pernikahan menyatakan bahwa takdir yang sudah tertulis disepakati dialam
nyata, yang disaksikan oleh para saksi dan yang lainnya, sah untuk melanjutkan transaksi berikutnya.
Setelah akad nikah dilangsungkan, ananda Hary dan Marwa harus tahu,
ada manajemen hidup yang harus diatur dengan teliti. Setelah kalian menyatu
dalam satu keluarga kecil, maka yang harus diingat bahwa,
pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua individu manusia, namun lebih dari
itu ada dua keluarga besar yang sedang mengikat dalam sebuah
transaksi besar, yang mana di antara transaksi ekonomi
yang sudah tercatat antara kalian berdua terdapat transaksi
sosial yang harus dihubungkan, di mana hubungan ini harus dijaga dengan baik.
Ananda Hary dan
Marwah harus tahu, komunikasi harus dibangun dan diperluas tidak hanya berkisar
antara suami dan istri saja, antara orang tua saja, namun juga harus diperluas
dengan komunikasi antar keluarga besar. Hari ini kalian tidak lagi berdua, dua keluarga besar telah dipertemukan
dalam transaksi munakahat ini. Keduanya harus dijaga dengan baik, tidak boleh membeda-bedakan
antara keluarga sendiri dengan keluarga suami atau.
Sistem
manajeman dalam ilmu ekonomi telah mengajarkan kita,
bagaimana mengatur dan mengelola manajemen dengan baik, ilmu ini juga
mengajarkan pada kita bagaimana menciptakan transaksi manajemen dengan sangat
rapi. Manajemen ekonomi tertulis dalam berbagai teorinya serta dipraktekkan
dalam transaksionalnya, sementara manajemen sosial dipraktekkan dalam kehidupatan nyata. Transaksi ekonomi
dibangun dalam siatem berjaringan, sementara transaksi sosial dilaksanakan menurut prinsip bersama-sama yang dibangun atas dasar akhlak, etika, dan moral.
Kesalahan dalam mengatur manajemen ekonomi maka rugi yang akan
didapatkan, dan kesalahan dalam mengatur transaksi sosial, hancurlah sendi-sendi
kehidupan itu. Manajemen dalam berumah tangga harus diatur dengan baik. Tidak
boleh ada yang berkhianat di antara keduanya, tidak boleh ada yang diam-diam
mendua dalam hatinya. Silakan menebar senyum pada yang lainnya,
namun hatinya jangan.
Menjaga transaksi berjaringan dalam sistem ekonomi,
kejujuran sangatlah diutamakan. Sikap jujur akan menanamkan kepercayaan dalam
sebuah transaksi. Begitu juga dalam beruma tangga, jujur kepada pasangan atas
perkara apa saja. Suami jujur pada istri, istri jujur pada suami. Teruslah
memelihara kejujuran dalam bentuk apapun dan sampai kapanpun. Kejujuran akan
membangun rasa kepercayaan, dan kepercayaan akan membangun serta memperkuat
rasa harmonis dalam berumah tangga.
Ananda Hary, setelah selesai bertransaksi tentunya dari apa yang
telah diusahakan dan diatur dengan baik dan untungpun didapat, maka jangan lupa
ada hasil yang harus dibagikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi
tersebut, sesuai dengan hak masing-masing. Apakah dia sebagai pekerja,
apakah dia sebagai pemilik modalnya, atau dalam bentuk apapun. Bagian yang akan didapatkan
sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam manajemen transaksinya.
Ananda Hary, Apa hubungannya dengan menikah. Setelah menikah ada
rejeki yang sudah dijanjikan Tuhan kepada hambanya. Rejeki dalam berbagai
bentuk, baik rejeki diberi kesehatan badan, rejeki mendapatkan sodara baru, dan
tentunya semua itu akan mendatangkan rejeki dalam bentuk harta. Terkait dengan
rejeki dalam berbentuk harta kekayaan tudaklah menjadi miliki suami semata,
mentang-mentang suami yang bekerja, lalu suaminya yang berhak mengatur semua
itu.
Ananda berdua
harus tahu, ada deviden yang harus dibagikan kepada
istrimu. Dan bukan hanya dipahami sebagai profit sharing semata, malah menjadi kewajiban
bagi suami untuk menafkahinya. Dalam bahasa yang populer dimasyarakat
kita, harta suami adalah harta istri juga, sementara harta istri bukanlah milik
suami. Selain dari penghasilan yang harus dibagi
ada pemilik modal yang sangat berhak atas kalian berdua, yakni orang tua. Di sini
ananda Hary dan Marwa harus tahu, orang tua adalah pemilik yang datang bukan
orang yang menumpang tinggal. Muliakanlah kedua orang tua kalian di dua belah
pihak, sebab mereka punya hak paten atas apa yang kalian miliki.
Hitung-hitungan manajemen ekonomi merupakan hitung-hitungan kehidupan. Setiap apa yang diciptakan Tuhan tidak terlepas
dari pengawasan-Nya. Semua terhitung dengan sangat baik, sesuai dengan
sifat-Nya bahwa Tuhan adalah maha menghitung atas segala sesuatu. Al-hasibu,
adalah salah satu dari sifat ketuhanan, tertera dalam al-asma ul husna, berada pada
urutan yang ke-40, yang bermakna Maha Menghitung. Tuhan maha menghitung atas segala sesuatu yang hadir dalam bentuk apapun
pada kehidupan manusia.
Cara Tuhan menghitung atas perbuatan hamba, tidaklah sama seperti
manusia menghitung atas dirinya dan orang lain. Rincian-rincian ini sangat
teliti dan akurat. Bagaimana tidak Tuhan memulai hitungan pada hambanya dari
sejak niat diucapkan. Jika niat itu menghasilkan kebaikan maka perbuatannya
dicatat sebelum itu berlaku, sementara berbeda dengan niat yang buruk,
rencananya belum dicatat sebelum perbuatan buruk itu dilakukan. Begitulah catatan terhadap pernikahan, Tuhan telah
mencatatnya sebagai amal baik semenjak niat itu terpatri dalam hati kalian, dan
setelah akad berlangsung berbakti kepada pasangan adalah ibadah, tidak berlaku
kepada istri saja, ini juga berlaku untuk suami. Semakin baik memperlakukan
pasanganmu, maka semakin besar catatan amal kebaikan tertulis atas namamu dalam
manajemen Tuhan.
Niat yang
ditancapkan dalam hati seseorang menjadi dasar hitungan Tuhan atas hambanya,
sementara perencanaan yang dilkukan oleh manusia merupakan awal dari sistem
manajemen dalam kehidupannya. Transaksi ekonomi perencanaan menjadi tolak ukur
dalam menata kehidupan dunia. Segala transaksi kehidupan tidak terlepas dari apa
yang direncanakan. Rencana ini juga disebut dengan langkah awal, sebelum takdir
Tuhan yang lain harus diraih oleh manusia. Langkah, rejeki, pertemuan, dan maut
tidak terlepas dari langkah-langkah yang dilakukan.
Manusia harus
mengatur langkah perencanaannya, perencanaan dapat ditanggulangi oleh manusia,
sementara rejeki, pertemuan, dan maut merupakan sesuatu hal yang tidak dapat
ditanggulangi. Setiap kita tidak pernah tahu akan rejeki yang didapat, namun
dari langkah yang diambil kita dapat merancang atau merekayasa seperti apa
rejeki itu akan diperoleh. Sementara pertemuan dan maut menjadi persoalan yang
selalu menjadi gaib dalam kehidupan.
Manusia tidak
tahu kapan pertemuan dalam bentuk apapun dapat jalaninya, dan apatah lagi
dengan hal yang bersifat kematian. Dalam hal ini, baik masalah yang dapat
ditanggulangi, maupun dengan masalah yang tidak dapat ditanggulangi, manusia
hanya menunggu masanya saja, dengan tetap menetapkan langkah dan perencanaan
yang baik, tentunya dibarengi dengan doa yang kusyu’. Langkah dan rejeki masih
dapat direkayasa adanya, namun berbeda dengan pertemuan dan maut, tidak ada
satupun di antara kita yang mampu mendeteksi kapan manusia dipertemukan dan
kapan ajal akan menjemput.
Ananda Hary
andriana dan Marwah Zakiah yang saya sayangi, berhitunglah dengan baik atas
pernikahanmu, jangan kalian lupakan asas keseimbangan dalam menghitungnya. Janganlah
kalian kurangi dan kalian tambahkan hitungan itu hanya untuk diri kalian saja. Jika
ananda Hary dan Marwah melebih-lebihkan hitungan kebaikan kepada diri dan keluarga Hary
saja, lalu ketika menghitung kebaikan untuk istri dan keluarganya
dikurang-kurangi, ketahuilah dengan cara seperti itu kalian sedang menuai kehancuran dalam berumah tangga. Janganlah menggunakan teori ekonomi kapitalis dalam berumah
tangga “dari modal yang sekecil-kecilnya mendapatkan untung yang
sebesar-besarnya”, dalam berumah tangga itu tidak boleh berlaku. Namun yang
harus dihidupkan dalam keluarga, mengawalinya dengan modal keberkahan, mendapatkan
keuntungan besar, lalu untungnya dinikmati bersama-sama.
Akhirnya, saya
ingin menutup, ketahuilah wahai anakku, bukan menghitung harta yang mebuat
harmonis dalam berumah tangga, akan tetapi kebahagiaan itu hanya bisa didapat
dalam membagi kasih dan sayang sebanyak-banyaknya. Baik kasih kepada pasangan
kita, dan juga sayang kepada kedua orang tua sebagai pemilik modal utama dalam
perusahaan cinta. Menyangilah dengan baik pada istri dan suami kalian, serta berbaktilah kepada kedua orang tua. Dan inshaAllah kebahagiaan akan
selalu menyertai kalian berdua. Amiiin....amiiiin....ya rabbal ‘alamin.
Komentar
Posting Komentar