AKU HANYALAH OBJEK TUHAN

Aku hanyalah objek Tuhan, begitu pun semua makhluk beposisi sama denganku. Tuhanku adalah Subjekku, Dzat yang menciptakan semesta. Diantara semua objek Tuhan hanya manusia yang diberikan kelebihan yaitu berupa amanat untuk menjaga dan merawat keberlangsungan semesta.

Disini aku pahami bahwa aku tidak boleh menjadikan makhluk selain aku hanya sebagai objekku, meskipun makhluk itu memiliki tugas dunia di bawah satu tingkat atau beberapa tingkat dari diriku. 

Aku posisikan mereka semua sebagai subjek yang setara dalam jalinan kemitraanku, meskipun secara kasat mata mereka sebagai objekku.

Supirku, pegawaiku, bawahanku dan sebagainya adalah mitra keberlangsungan hidupku di dunia. Aku posisikan mereka sebagai sahabat semesta yang membantu kesempurnaan tugas duniaku. Namun sering kali aku mengekploitasi mereka, hampir tidak pernah berterimakasih hingga berkata kasar kepada mereka. Makhluk macam apa aku ini?

Makhluk seperti air aku jadikan sebagai subjek, bukan objekku. Komunikasi aku dan air harus dibangun secara harmoni, yaitu aku selalu berterikamasih kepada air yang menjadi penopang keberlangsungan hidupku di dunia. 

Kangkung yang aku tanam adalah mitra kerjaku. Sudah selayaknya aku berterimakasih kepadanya karena ia menjadi salah satu penopang keberlangsungan perjalanan hidupku.

Namun seringkali aku lupa, aku jadikan air hanya sebagai objekku.  Setiap hari aku meminum air, tetapi aku tidak pernah berterimakasih kepada air. Setiap detik aku menghirup oksigen, tetapi aku tidak pernah berterimakasih kepada oksigen.

Hampir tidak pernah aku melakukan komunikasi dengan makhluk semesta yang membantu tugas hidupku. Aku cenderung menjadi penguasa dan mengekploitasi mereka. Aku ini makhluk yang tidak tahu kata terimakasih.

Makhluk semesta diciptakan atas dasar cinta kasih, maka aku harus bersahabat dengan semesta atas dasar cinta. Dalam merahmati semesta, minimal aku mendoakan dan tidak mengakatakan kata-kata yang buruk kepadanya. Nasi yang aku makan setiap hari, aku hakikati untuk menyempurnakan tugas yang diamanatkan Tuhan kepada nasi.

 Nabiku menjadi berometer tindak lampahku. Rasulku selalu memperlakukan apapun dengan sikap terpuji, dan menjadikan orang-orang disekitarnya sebagai sahabat, meskipun ia berposisi sebagai asisten perawat kuda, asisten rumah tangga, bahkan berstatus sebagai budak.

Tidak ada istilah atasan dan bawahan, tidak ada kata majikan dan pelayan, dan tidak ada kasta dan kedudukan. Semua berposisi sebagai sahabat yang memiliki tugas dengan posisi kerahmatan yang berbeda.

Jika aku seorang pemilik perusahaan, aku memperlakukan dan memposisikan para pekerjaku sebagai sahabat yang satu energi denganku, maka perusahaan itu pasti berjalan dinamis dan harmoni, karena setiap pos tugas di perusahaan diisi sahabat semesta atas amanat kerahmatan di lintas tugas yang berbeda.

Jiwa tenang nan damaiku sebagai aku sejati akan selalu menerima posisi apapun yang diamanatkan Tuhan. Tugas yang dilakukan dengan dasar kerahmatan dipastikan akan muncul penemuan besar dibidangnya.

Aku menyebutnya dengan bahasa keramat yang menjadi fasilitas yang diberikan Tuhan kepadanya. Bertugaslah dengan dasar kerahmatan, dan jadikan makhluk selain kamu sebagai sahabat.

Dr. KH Mahrussilah, MA

Banten, 31 Desember 2021



Komentar

A Arif Agustin mengatakan…
Keren Gus,
Artikel kemitraan semesta ini renyah sekali di cernanya. Terutama soal Air dan Kangkung. Hehe
Unknown mengatakan…
Sahabat semestaku..
Unknown mengatakan…
Luar biasa kiai dan juga guruku

Postingan populer dari blog ini

Logika Politik: Beri Kabar Gembira Bukan Kabar Sedih apalagi Duka

Logika Meugom: Dibolehkan Konser dalam Konteks Politik

Tu Sop: Sebuah Pengantar Peradaban Politik