Memperingati Hari Ibu: Ini Semua karena Doanya

Jangan engkau tanyakan tentang dirimu pada orang lain, sebab mereka akan melihat sisi terburuk darimu. Bertanyalah tentangmu pada ibu yang telah melahirkanmu, dia selalu akan melihat sisi terbaik darimu tanpa cela sedikitpun.

Dan menurut ibuku, aku adalah anak yang paling tampan di dunia.

Adanya hari ibu bukan karena ia pantas diingat setahun sekali, melainkan memperkuat dalam ingatan di mana keberadaannya diperingati. Barang kali hati-hati setiap kita mulai lupa dengan ibu dikala berbagai persoalan hidup mengitari dirinya. 

Arys berguncang oleh karena doa seorang ibu. Tuhan akan mengalah ketika tangan-tangan harapan menengadah ke langit menuntut kejelasan atas anaknya yang telah dilahirkan ke dunia melalui rahimnya.

Melalui doanyalah buku ini hadir di tengah-tengah umat, tentunya untuk menebar cahaya ilmu kepada penduduk bumi. Untuk itu, buku ini dipersembahkan kepadanya, karena doa dalam sujudnyalah proses studi ini berjalan dengan baik, sehingga menjadi karya yang dapat dibaca.

Harapan berikutnya, karya ini pelan-pelan mengelilingi jagad raya hingga sampai pada ujung negeri nun jauh di sana. Melalui hembusan angin cahaya ilmu disampaikan kepada seluruh isi alam.

Ibuku, petani miskin pemilik otoritas penuh atas karya ini. Namanya tersemat dengan baik di dalamnya. Dan kepada Tuhan telah ku titipkan bahwa apa yang bermanfaat dari buku ini menjadi amal jariah sepanjang hidupnya di dunia dan diakhirat nanti.

Hal yang sangat mendasar setiap hamba akan dipertanyakan setiap apa yang dilakukannya di dunia. Jika ibuku dipertanyakan oleh malaikat akan amal-amalnya, sebagai anak akan melapor kepada Tuhan bahwa ibuku seharusnya tidak berdosa lagi, sebab aku selalu memohon keampunan untuknya.

Bukankah Tuhan telah berjanji bahwa doa anak kepada ibunya tidak terhijab dengan apapun.

Kekuatan doa seorang ibu telah mengantarkan jalan yang mudah untuk anaknya. Penulis adalah siswa yang terbuang dari kemampuan akademis sepanjang perjalanan pendidikan yang ditempuh.

Semua ini bukan karena kepintaran, tapi lebih pada sebuah upaya untuk menanamkan kepada generasi berikutnya, jika kita butuh usaha dalam menata diri secara akademis. Tidak mudah memang bagi masyarakat yang mana ekonomi keluarganya sangatlah serba kekurangan, bahkan miskin. 

Lumrahnya anak petani penggarap sawah orang, ketika musim panen tiba yang pertama dipikirkannya berapa takaran setoran sewa lahan kepada pemilik sawah, yang kadang-kadang mengalami break even point meminjam istilah perusahaan. Bukan berpikir berapa sisa uang yang harus dikirim pada anaknya yang sedang menempuh pendidikan di ibu kota propinsi.

Lahir dan dibesarkan “bak sago ateng blang” (di pelantaran sawah). Ketika ibunya lelah menggendong anaknya ketika menyemai dan mencabut rumput di sawah, anak itu ditidurkan “bak sago ateng blang”.

Sambil bekerja di sawah, seorang ibu yang kini sudah tidak muda lagi lelah dengan pekerjaannya, duduk beristirahat sambil menjaga anaknya agar tidak jatuh ke dalam kubangan air yang mengenang di dalam sawah.

Proses belajar di era digital tidak lagi fokus pada bagaimana cara belajar membaca. Namun sudah harus pada upaya membaca untuk belajar. Membaca untuk belajar itulah aktifitas berpikirnya cendikiawan abad-abad puncak kejayaan ilmuan Muslim.

Belajar membaca tanpa mendalami makna membaca untuk belajar bagaikan iqrak yang hilang. Membaca untuk belajar tidaklah diajarkan di tempat yang lain kecuali di Perguruan Tinggi. Dan ini tidaklah mudah, banyak godaan yang dihadapi, terkadang tidak ada apa yang dimakan itu sudah lumrah bagi pelajar perantauan.

Melanjutkan studi di tingkat doktoral bukan karena diri  Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepentingan atas ijazah yang dimilikinya  untuk mengurus pangkat. Sehingga semakin tinggi pangkatnya makin besar gaji dan tunjangan yang diterima. Tidak untuk semua itu, melainkan untuk melanjutkan iqrak yang hilang.

Iqrak bukanlah pelajaran sekedar membaca, melainkan lebih pada membaca untuk belajar. Membaca untuk dapat dimaknai bersamanya reasearch ilmiah, dan yang sepadan dengannya.

Research inilah sering terkendala bagi mahasiswa di strata apapun, mengingat banyak hal yang harus dilakukan. Mulai dari biaya, waktu, kemampuan menentukan unit analisis masalah dan sampai pada upaya menemukan serta membangun teori baru.

Apakah dengan melanjutkan pendidikan doktoral menjadi inspirasi bagi anak-anak petani miskin lainnya, ini juga perlu dikaji ulang. Sebab, tidak ada yang dapat menjadi inspirasi apapun kecuali diri manusia itu senndiri.

Dan semua ini bukanlah ingin menunjukkan diri di depan dari yang lainnya, melainkan sebuah upaya penyadaran diri bahwa membaca untuk belajar perlu ditumbuh kembangkan kepada generasi Indonesia, Aceh, kususnya generasi penerus Aceh Barat Daya.

Bertepatan dengan hari ibu. Semoga saja dengan kehadiran buku ini dapat membuka kembali ingatan kita di mana negeri ini diawal kemerdekaan telah dibangun peradabannya oleh A. Hasjmy.

Jakarta, 21 Desember 2021.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Politik: Beri Kabar Gembira Bukan Kabar Sedih apalagi Duka

Logika Meugom: Dibolehkan Konser dalam Konteks Politik

Tu Sop: Sebuah Pengantar Peradaban Politik